« Home | UNO » | My name is Mohabbat Ali (?) not Muhammad Ali » | Freiburg: curhat » | A dream, Perusahaan fantasi » | Dekat » | Signs of an approaching tsunami » | Ada kebakaran lagi, kerugiannya mencapai miliaran ... » | ¤Dzan¤ » | Perbandingan Beberapa Aplikasi di MS Windows dan L... » | SITUS-SITUS PENTING BAGI PENGGUNA LINUX » 

Sunday, October 15, 2006 

Titisee

Shorea and Yara driving cycle-boat on titisee lake

Gilgenmatten 33
79114 Freiburg

October, 15th 2006

masih mencoba melatih untuk mengekspresikan isi kepala ini dalam bentuk tulisan.....


Hari ini aku jalan-jalan dengan teman-teman Indonesia di Freiburg. Mbak Ayi dan anak-anaknya, Kang Wandi, Mila, Betsi, Dwi dan aku janjian di Gleis 7 Hauptbahnhof pukul 12.00. Setibanya di Hauptbahnhof aku melihat HP dan "Ah... pukul 12.01, aku terlambat". Memang kereta baru akan berangkat pukul 12.10 ke titisee. Namun tetap saja aku merasa sedikit kecewa karena tidak bisa hadir tepat pada waktu yang kujanjikan. Ya, sejak berada di sini 1 menit pun terasa berharga karena bisa saja kita tertinggal kereta dan harus menunggu 20 menit lagi. Akhirnya kami naik kereta dan duduk di gerbong kelas dua. Walau pun kelas dua namun suasananya sangat nyaman. Ah memang kurang bijak kalau aku membandingkannya dengan daerah asalku. Namun sepertinya kelas dua di sini mirip dengan kelas satu di daerah asalku. Bahkan sedikit lebih bagus. Ah.... sudahlah tidak begitu penting.

Ok, kembali ke cerita. Setibanya di titisee kami menuju tempat penyewaan perahu. Perahu ini mirip perahu angsa di Taman Mini Indonesia Indah, kita harus mengayuh pedal agar perahu ini berjalan.Untuk setengah jam kami harus membayar € 6. Harga tersebut terbilang murah, karena satu perahu dapat dinaiki 4-5 orang. Aku pun menjadi nahkoda kapal sekaligus pendayung bersama Betsi. Hahaha, lumayan juga. Hiburan yang murah meriah sekaligus sehat. Bagaimana tidak, kami harus mendayung selama setengah jam sambil menikmati pemandangan dan ngobrol-ngobrol. "Ah, celaka! Gara-gara terlalu senang aku baru ingat kalau aku belum bayar sama mbak Ayi." Kutulis saja sekalian di blog ini agar aku tidak lupa :p

Setelah puas, uhmmm capek mendayung, uhmm... waktunya sudah habis kami pun berlabuh. Setelah turun aku pun buru-buru melepas jaketku. Hah, panas sekali bah.... padahal suhu udara sekitar 10 derajat celcius. Rupanya mendayung selama 0,5 jam cukup untuk mengeluarkan keringat kita pada suhu sedingin itu. Kami pun berjalan menuju stasiun dan berangkat menuju daerah target jalan-jalan berikutnya "Hinter...." aku lupa namanya. Yang jelas tempat ini merupakan daerah favorit untuk pendidikan alam untuk anak-anak dan tingginya 800 mdpl.

"Hinterzarten"

Daerah ini sangat menarik bagiku karena di sini aku bisa melihat bagaimana masyrakat Jerman menanamkan rasa cinta dan kepekaan terhadap lingkungan sejak anak-anak. Mungkin itu pula yang menjadi alasan mbak Ayi untuk mengajak puteri-puterinya jalan-jalan ke sini. Agar kelak mereka menghargai alam.

Hmm... sepengetahuanku lingkungan di Eropa mengalami degradasi berat terutama sejak mereka masuk kepada era-industrialisasi. Beberapa negara Eropa seperti Inggris dan Belanda sudah kehilangan hutan alaminya.* Yah, kalau pun ada mungkin jumlahnya tidak signifikan. Hutan tampaknya menjadi pelarian sesaat mereka dari segala kesumpekan kota. Bahkan di Belanda nilai rekreasi dan konservasi hutan lebih besar ketimbang produksinya. Dan saya perhatikan di beberapa negara Eropa ada Partai Hijau atau partai lingkungan. Hal ini, tentu, menunjukkan bahwa isu lingkungan menempati porsi yang cukup besar di beberapa negara eropa.

Kembali lagi ke hutan pendidikan tersebut. Di sini ada beberapa hal yang membuatku tertarik. Sistem pendidikan lingkungan yang ada dirancang untuk melibatkan seluruh panca indera anak-anak. Di hutan pendidikan ini spesies yang banyak kujumpai adalah: Picea abies, Abies alba, Betula pendula, Pinus sylvestris, dan Blue berry (Vaccinium spp.).

Mata
-Pengamatan jenis-jenis flora dan fauna dengan rancangan yang menarik anak-anak.
contoh: Mereka menempatkan beberapa hewan kayu di sembarang tempat dan meminta anak-anak untuk menebak hewan kayu apa saja yang terdapat di tempat tersebut. Di akhir jalur mereka akan diberi jawabannya.
- Di sana tersedia jendela plastik dengan warna merah, kuning, hijau dan biru. Tentu saja warna sebuah objek akan berbeda jika kita melihatnya melalui jendela ini. Yang menarik mungkin eksperimen pencampuran warna. Jika saya mempunyai jaket biru, akan terlihat berwarna apakah jaket kita dari jendela plastik berwarna merah?? Mengapa? Hayooo...!

Telinga
Contoh:
-Meminta anak-anak untuk hening sejenak dan mendengarkan suara-suara di sekeliling mereka, suara desiran angin, kicauan burung, ranting yang bergesekkan baik karena angin ataupun gerakan tupai dan lain-lain.
-Mereka menempatkan satu gelondong kayu utuh. Satu orang diminta untuk menempatkan telinganya pada satu ujung kayu dan satu orang diminta untuk mengetuk, berbicara atau menggesek-gesek kayu di ujung yang lain.
-Ada beberapa buah kayu yang digantung dan mereka dapat memukulnya dengan palu kayu. Hmmm sayangnya mereka tidak membuatnya dari beranekaragam kayu. Mungkin bunyinya akan berbeda!

Peraba
-Mereka diminta menanggalkan sepatu mereka dan merasakan bagaimana rasanya berjalan di atas tanah, bebatuan, dan lantai kayu (log)

Penciuman
- Di satu tempat ada sebuah kotak yang mempunyai 5 buah corong. Di bawah masing-masing corong ada tombol. Jika tombol ini ditekan maka parfum dengan bau-bauan khas tumbuhan tertentu akan keluar. Anak-anak diminta untuk menebak bau apakah yang keluar dari corong tersebut. Jawaban yang benar tersedia di bawah tombol namun ditutup dengan engsel kayu.

Aktivitas Psikomotorik
-mereka menyediakan taman bermain "modern"
-mereka menyediakan taman bermain alami (co: pohon tumbang yang gampang dipanjat anak-anak)
-Ada tali untuk menyebrang sungai kecil
-Ada spider web

Kelihatannya memang sederhana dan mungkin lucu bagi sebagian kita namun cobalah melihat dari kaca pandang mereka. Tinggal di kota, gedung, aspal, mobil, tram, kereta, sedikit pepohonan, kamar apartemen dan berbagai macam suasana kota. Pemandangan dan pengalaman sederhana semacam ini tentu jarang didapat bukan. Bahkan orang jakarta pun lebih senang untuk menghabiskan akhir pekan di Puncak, Bogor.

Satu perkataan mbak Ayi yang kuingat hari ini adalah : "jika ada anak kita yang bermain tanah maka kita akan memarahi anak kita karena tanah itu kotor dan penuh cacing, namun mungkin sedikit dari kita yang akan berkata bahwa tanah merupakan salah satu elemen penting untuk menyokong kehidupan manusia. Karena di atas tanahlah padi berproduksi dan menghasilkan beras untuk kita makan. Dan kalau aku boleh menambahkan, kita bisa saja memasukkan unsur religius seperti "ketahuilah nak, sesungguhnya Nabi Adam A.S diciptakan oleh Allah SWT dari tanah". Wah, sebuah sisi lain dalam memandang sebuah hal. Ah... beliau memang aktivis lingkungan sejati :-)

*Istilah hutan alami atau primary forest ini diperselisihkan, karena apakah benar-benar ada hutan yang sama sekali tidak pernah dijamah manusia?? Namun kali ini saya tidak ingin mendiskusikan itu di blog ini