« Home | Pertanyaan usang » | Hidupku masa lalu, masa depan dan hari ini..... » | Sebuah pelajaran kehidupan, "Perjalanan Menuju Ar ... » | ”one grain of rice can tip the scale” (Mulan 1) » | winter dialogue » | "Novel kehidupan" » | Puisi aneh » | a dialogue with an old friend » | Allah is enogh for me » | Rindu » 

Sunday, March 04, 2007 

Sepucuk surat koyak untuk bidadari


Wahai bidadari di mana pun engkau berada
Wahai yang lebih indah dari kerlip bintang di malam hari yang hening
Duhai engkau permaisuri negeri atas awan
Sungguh, cinta. Aku di sini berdoa dengan debaran harap dan resah
Sungguh, sayang. Di sini aku menanti pula hari itu
Oh, beginikah rasa rindu Adam kepada Siti Hawa
Namun, dimanakah arafah dan Hawa itu?

Wajah ini perlahan tertunduk
Hati ini terasa beku walau musim semi datang
Namun ketika hampir saja ia mati kedinginan
Derai embun pengharapanmu di setiap malam melelehkannya
Di sini. Masih ada tunas yang bertahan

-------------------------
Freiburg Hauptbahnhof
14 Safar 1428

Labels:

dan bidadari itu,
akan datang di tempat yang tepat
dan saat yang tepat...

Insya Allah =)

Maunya sih cepat dan tepat (kayak lomba aja). Amin.

Post a Comment