« Home | ”one grain of rice can tip the scale” (Mulan 1) » | winter dialogue » | "Novel kehidupan" » | Puisi aneh » | a dialogue with an old friend » | Allah is enogh for me » | Rindu » | Bunda aku malu » | AKHLAK DAN NASEHAT SALAF DALAM HAL MENGINGAT MATI ... » | Kesabaran Orang Beriman » 

Monday, February 12, 2007 

Sebuah pelajaran kehidupan, "Perjalanan Menuju Ar Rahiim"

11 February 2007, 18:12

Fakta bahwa aku masih bernafas hari ini dan detik ini.
Hingga aku masih bisa menuliskan kalimat ini
adalah bukti bahwa Allah masih memberikan kesempatan Kepadaku
Kesempatan untuk memperbaiki diri
Kesempatan untuk memperbanyak bekal menuju-Nya
Jatuh dan bangun adalah bagian dari kehidupan manusia, bagian dari sebuah "Pelajaran Besar". Pelajaran kehidupan.

Seperti seorang bayi yang sedang belajar berjalan. Jatuh merupakan bagian dari pelajaran berjalan bagi sang bayi.
Namun bagi kita, mungkin "jatuh" itu bagian dari pelajaran berjalan menuju-Nya atau mungkin bagian dari pelajaran berlari menuju-Nya. Berjalan atau berlari menyongsong dengan penuh cinta, takut dan harap.
Oleh karena itu "Aku akan terus berjuang untuk menjadi lebih baik!" Oh Allah, kuatkanlah kaki ini.

Fatahillah
Auwaldstrasse 89
Freiburg

Tunjukkan rasa cinta kita yang teramat sangat pada-Nya.
Ia akan menguji diri kita dengan serangkaian peristiwa yang membuat diri "jatuh".
Dia menguji kesungguhan cinta.
Cinta yang tak dapat diukur oleh materi.
Atau oleh ukuran "rasa" yang lainnya.
Cinta abadi yang hanya untuk-Nya.

Sayidatina 'Aisyah pernah bertanya pada Baginda Rasulullah:
"Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga?. Mengapa engkau masih bersusah payah begini?".
Baginda Rasul menjawab dengan lunak: "Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur".

Seorang Baginda Rasulullah saja masih taat menjalankan semua perintah dan laranganNya.
Padahal ia sudah dijamin syurga oleh-Nya.

Apa yang dilakukan Baginda Rasulullah, semoga menjadi cerminan langkah kehidupan kita disaat kita sedang "jatuh".

Post a Comment